Apa pilihanmu nanti dalam kontestasi politik 2019?
Calon dari Partai Politik berembel Islamkah? Atau dari Partai politik berembel
Nasionalis-Relegiuskah (non islam) kah? Masihkah kalian percaya dengan semua
itu?
Menarik saat kita membicarakan mengenai dua jenis
Partai Politik yang menamakan diri mereka Sebagai Partai Politik yang Berembel
Islam dan Partai Politik yang Nasionalis. Semacam ada sebuah polarisasi pembeda
dari kedua partai itu. Apakah benar demikian? Apakah Partai politik Berembel
islam lebih baik dari pada Partai Nasionalis?
Kalau
penulis lihat dari rentang waktu pasca reformasi hampir nyaris tidak ada
deferensiasi dari Partai politik Berembel islam dan non islam. Mulai dari segi
kebersihannya, Pelayanan publiknya, Korupsinya, Perhatiannya kepada publik, Perilakunya,
dan sebagainya hampir nyaris tidak ada perbedaan. Berbeda pada saat kita
melihat bagaimana dulu orang seperti Mohammad Natsir dan Wahid Hasyim mengklaim
Partai mereka Berembel Islam itu bisa dikatakan Nyata/Otentik. Hal itu bisa
dibuktikan dengan standar moralitasnya dihadapan publik, antara klaim dan
perbuatan itu nyambung. Seperti misalnya bagaimana Natsir dulu pada saat beliau
selesai menjadi Perdana Menteri, uang sisa itu ia kembalikan lalu pulang membawa
motor tanpa ada pendampingan aparat dsb, sama halnya Wahid Hasyim pada saat di
konstituante diserang habis-habisan sampai istrinya marah tidak terima karena dihabisi
di konstituante, tetapi saat pulang orang yang menyerang di konstiuante itu
meminta tumpangan kepada Wahid Hasyim, tetapi yang diperlihatkan oleh Wahid
Hasyim justru beliau memberikan tumpangan kepada orang yang menyerang itu
dengan landasan bahwa “ orang berhak mengkritik saya habis-habisan di
konstituante karena itu ranah publik, tetapi tumpangan soal yang berbeda, ini
adalah ranah privat” jadi moral yang dibuktikan itu nyata. Sehingga, nyambung
pada saat mereka mengklaim dari partai Berembel islam.
Adapun,
justru yang menjadi sebuah catatan untuk orang-orang yang berasal dari partai Berembel
islam adalah mereka harus paham dengan konsekuensinya. Artinya, hukuman publik
bagi orang-orang yang berasal dari partai Berembel islam lebih berat ketimbang
dengan orang-orang dari partai lain. Karena mereka terikat dengan moral agama,
terikat dengan nilai dan etika umat beragama dan itu ditonton oleh publik.
Sangat miris nantinya jika mereka mencederai etika publik.
Lalu apa sebenarnya makna dari penyebutan Partai Berembel
islam dan non islam?.
Sebenarnya
secara bahasa, penyebutan partai islam dan non islam itu sudah bermasalah.
Karena Partai Politik tidak berAgama. Munculnya istilah Partai yang basis
massanya orang islam, itu juga problematis misal Partai Golkar dan Demokrat
massa mereka sebagian besar juga bukan dari orang islam. Lalu sebenarnya apa?
Istilah seperti inikan sebenarnya digunakan oleh elit-elit islam untuk
meningkatkan bergaining mereka, dalam kaitannya dengan pilpres mendatang untuk mengalahkan lawan politik.
Disisi
lain, yang membuat penulis risih adalah munculnya Polarisasi islam dan
nasionalis digunakan sebagai alat untuk menyerang kelompok nasionalis yang
dituduh kurang islam. misal Jokowi kurang islam dari pada Surya Darma Ali,
kurang Islam dari Gatot, dsb. ini kan sebenarnya politik identitas, yang
digunakan sebagai alat untuk menyerang lawan politik yang mungkin tidak sepaham
dengan mereka. Hal semacam ini tidak sehat untuk demokrasi karena pola seperti
ini akan terus dilakukan sebagai cara untuk mengalahkan lawan dalam kontestasi
politik, contohnya dalam kasus ahok. Seolah ada sebuah pikiran Ketakutan
didalam khazanah publik bahwa “Jika dipimpin orang non muslim maka nanti akan
ada upaya kristenisasi, jika dipimpin orang ini akan ada upaya komunisisasi,
upaya yahudiisasi, chinaisasi dsb. Artinya dalam demokrasi kita tidak terpeilhara
itu kecerdasaan publik, karena yang diperlihatkan terus-menurus oleh demokrasi
kita bukanlah konfrontasi argumen bermutu tetapi konfrontasi sentimen. Misal
dari kasus ahok, penulis melihat bola panas itu akan terus menerus digulirkan
oleh elit politik, sudah tampak di jabar dan dibeberapa tempat lainnya.
Tetapi
memang, yang perlu dicermati kaitan antara agama dan politik ini memiliki aspek
persamaan. Agama dan partai politik, diantara keduanya ada dua persamaan yaitu
berurusan dengan kekuasaan. Dengan mengenali keduanya sebagai sumber kekuasaan
memang seharusnya publik tidak perlu terkaget-kaget jika dua entitas ini
sengaja dipakai oleh elit politik kita. Misal. Seperti di jerman ada partai
kristen demokrat, dimana parpol dan agama menyatu. Persamaan yang lebih jauh
yakni 1) sama-sama risau dengan jumlah pengikutnya, 2) berupaya selalu membangun
perwakilan di wilayah-wilayah entah itu yang disebut DPW, DPD, DPC dst (kalau
agama di masjid-masjid) dan karenanya Masjid itu sering disebut sebagai locus of power ,3). Parpol selalu Risau
dengan kas uangnya / finansial, agama juga, agama apapun paling suka
mengumpulkan uang dari umatnya sama seperti halnya partai politik. Persamaan
sifat inilah yang mungkin perlu dipahami sebagai pengetahuan tambahan agar juga
tidak terlalu terkaget-kaget dengan keadaan parpol saat ini.
Saat
ini yang menjadi pertanyaan adalah apakah partai islam benar-benar ada? Iya secara
permukaan memang ada, yaitu dari basis ideologi (PKS,PPP) dan ada yg Berembel
komunitas islam (PKB,PAN). Tetapi secara ruh islam tidak ada partai yang benar-benar
islam. Berbeda dengan dahulu jika kita melihat sejarah, Partai Islam seperti
masyumi dan NU dulu mereka benar-benar merefleksikan nilai islam dalam diri
mereka. Sehingga, publik ada patokan tingkah laku atau teladan yang dapat
digunakan sebagai contoh berprilaku masyarakat. Dulu pernah penulis dikisahkan
oleh salah seorang usia cukup tua, bahwa dulu dikampung-kampung, dirumah
masyarakat itu tidak ada foto Soekarno-Hatta yang ada justru foto Mohammad
Natsir dan Istrinya, Foto kyai dari kalangan NU dst. Artinya memang tokoh-tokoh
itu benar-benar merefleksikan nilai-nilai islam dalam nafas kehidupannya
sehingga menjadi panutan. Tetapi sekarang kita lihat, moral dan etika islam
tidak ditunjukkan secara masif oleh kader partai Berembel islam, bahkan dalam
kaitannya dengan pemilu suara partai Berembel islam semakin munurun semua
drastis. Ini kenapa? itu mungkin terjadi karena arus kekuatan global,
pluralisme, liberalisme, sekularisme Tiga kekuatan ini tidak terbendung. Sehingga
partai islam yang dulu memegang kuat islamnya, sekarang justru membuka diri
terhadap nilai-nilai universal.
Berkaitan dengan hal itu, nilai-nilai
universalitas ini dibarengi dengan berubahnya kesadaran publik. Jelas saat
pasca reformasi polarisasi partai semakin melemah, tidak ada lagi idealisme
yang benar-benar mutlak diterapkan oleh partai. Ideologi partai sudah menjadi
hal yang tidak layak jual lagi. Dan Menariknya, Pada level masyarakat sudah ada
kedewasaan politik, tetapi elit-elit islam masih mencoba mengawinkan identitas
islam dengan politik, karena itu memang dagangan mereka, mereka ingin disatukan
terus padahal masyarakat sudah paham. Bahayanya adalah muncul ke ironisan jika
pada saat kader dari parpol Berembel islam melakukan tindak-tindakan yang tidak
bersih, tetapi juga bukan berarti partai nasionalis melakukan tindak korupsi
itu diwajarkan, hanya saja tendensinya lebih seoalah-olah ke islam. Inilah tantangan
dari partai politik islam dalam berprilaku di era sekarang.
Sangatlah perlu masyarakat mencermati
fenomena-fenomena semacam ini sebagai sebuah kesadaran politik. terlebih
tahun-tahun ke depan perilaku partai politik pasti syarat akan konstestasi
politik mulai dari pilgub 2018 dan Pemilu 2019 tentu hal-hal semacam yang telah
dipaparkan diatas masih akan tetap terjadi, bukan bermaksud untuk mengamini,
akan tetapi potensi terjadi itu pasti ada. Untuk mencegah hal semacam itu
memang diperlukan kecerdasan publik sebagai pilar dari demokrasi.
Adapun,
partai politik harus melakukan otokritik terhadap segala perilaku politik yang
telah di lakukan selama ini. Ditengah publik yang sangat relegius dan plural
ini embel-embel agama tidak terlalu menjadi prioritas lagi. Sangatlah perlu
partai politik kembali mengaktifkan peran dan fungsinya sebagai penyambung
lidah rakyat/penghubung antara masyarakat dan pemerintah, mendidik,mengayomi,
dan melakukan pelayanan-pelayanan yang baik kepada masyarakat. Sehingga,
Kecerdasan publik terpilihara.

Komentar
Posting Komentar